5 Kontinum Berbahasa Untuk Kemandirian

"5 kontinum berbahasa"  yaitu Q, NDS, dan DS, tampaknya merujuk pada sebuah model atau kerangka kerja spesifik dalam pola komunikasi atau metode pengembangan bahasa, bukan dalam bidang sosiolinguistik umum (yang berfokus pada variasi dialek geografis atau sosial). 

Model ini lebih sering digunakan dalam konteks pendidikan, seperti di metode sentra pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), untuk mengukur dan menerapkan mutu berbahasa. Kelima kontinum tersebut adalah:

  1. Visually, Looking on (VLO): Penggunaan bahasa yang paling pasif dari sisi guru/fasilitator, di mana mereka hanya mengamati atau menunjukkan sesuatu secara visual tanpa interaksi verbal langsung yang signifikan.
  2. Non-Directive Statement (NDS): Pernyataan non-direktif, di mana guru membuat pernyataan yang menggambarkan tindakan atau objek tanpa menginstruksikan anak secara langsung. Tujuannya untuk mendorong observasi dan pemikiran anak secara mandiri.
  3. Question (Q): Pertanyaan, di mana guru mengajukan pertanyaan untuk memicu respons verbal, pemikiran kritis, atau eksplorasi lebih lanjut dari anak.
  4. Directive Statement (DS): Pernyataan direktif, di mana guru memberikan instruksi atau arahan yang jelas dan spesifik kepada anak mengenai apa yang harus dilakukan. Ini bersifat lebih mengontrol dibandingkan NDS.
  5. Physical Intervention: Intervensi fisik, di mana guru secara langsung membantu anak melakukan suatu tindakan, sering kali digunakan ketika arahan verbal tidak efektif. 

Model ini mengurutkan interaksi bahasa dari yang paling tidak mengontrol (VLO) hingga yang paling mengontrol (Physical Intervention) dalam lingkungan belajar, dengan tujuan agar guru dapat bervariasi dalam pendekatan komunikasi mereka untuk hasil pembelajaran yang optimal. Model ini membantu pendidik dan orang tua menyeimbangkan antara memberikan arahan (DS, Physical Intervention) dan mendorong kemandirian serta pemikiran (Q, NDS, VLO).

 

DAFTAR PERTANYAAN TERBUKA (OPEN-ENDED QUESTIONS)

  1. "Menurut lidah Kakak/Abang, masakan ini rasanya bagaimana? Ada yang kurang atau sudah pas?"
  2. "Kalau disuruh pilih warna untuk kamar ini, Kakak pilih warna apa? Kenapa warna itu yang dipilih?"
  3. "Tadi kita lewat jalan yang macet ya, menurut kamu lebih enak lewat jalan tadi atau jalan yang biasanya kita lalui?"
  4. "Tadi di sekolah ada teman yang menangis ya? Menurut kamu, kira-kira apa yang sedang dia rasakan?"
  5. "Kalau kamu jadi tokoh utama di film tadi, apa yang akan kamu lakukan supaya masalahnya selesai?"
  6. "Menurutmu, kenapa Ayah/Bunda hari ini terlihat sangat senang?"
  7. "Bagian mana dari tugas sekolah tadi yang paling menantang buat kamu? Gimana cara kamu menaklukkannya?"
  8. "Kalau nanti kita mencoba mainan yang lebih susah lagi, kamu mau mulai dari bagian mana dulu?"
  9. "Apa satu hal baru yang kamu pelajari hari ini yang sebelumnya kamu anggap tidak mungkin bisa?"
  10. "Kita punya waktu 1 jam sebelum mandi, menurut kamu enaknya kita isi dengan kegiatan apa ya?"
  11. "Bunda lihat mainannya berserakan, menurut kamu gimana cara paling cepat supaya kamar ini rapi lagi?"
  12. "Kalau nanti kita pergi ke kebun binatang, hewan apa yang harus kita datangi pertama kali? Apa alasannya?"

💡 Tips Penting untuk Ayah Bunda saat Bertanya:

  1. Haramkan Kata "Salah": Apapun jawaban anak, hargai. Jika ia bilang "Salaknya pahit" padahal menurut Anda manis, cukup katakan: "Oh, begitu ya menurut lidah Kakak. Terima kasih sudah kasih tahu Bunda."
  2. Berikan Waktu Menunggu: Anak butuh waktu untuk mengolah kata-kata di otaknya. Jangan terburu-buru menjawabkan untuk mereka. Tunggu 5-10 detik.
  3. Gunakan Teknik "Mencermin" (Mirroring): Jika anak menjawab "Seru!", Ayah Bunda bisa memancing lagi dengan: "Wah, seru ya? Serunya di bagian mana yang paling bikin kamu ingat?"
  4. Kontak Mata: Rendahkan tubuh Ayah Bunda hingga setinggi mata anak. Ini memberikan sinyal bahwa pendapat mereka benar-benar penting dan didengarkan.

Kesimpulan: Dengan membiasakan pertanyaan-pertanyaan ini, Ayah Bunda sedang menginstalasi keyakinan bahwa "Suara saya berharga" di dalam diri anak. Kelak, mereka tidak akan menjadi mahasiswa yang "nunduk" atau karyawan yang hanya bisa bilang "Yes, Boss".