Dalam sebuah pelatihan intensif yang bisa direfleksikan, ada satu aturan unik yang dipasang oleh sang trainer: setiap peserta yang mengucapkan kata "susah", "sulit", atau "angel" (dalam dialek Jawa) dikenakan denda Rp 10.000 per kata. Awalnya terasa sepele, namun ternyata banyak sekali peserta—termasuk para profesional—yang "tumbang" dan harus membayar denda karena tanpa sadar sering mengucapkan kata-kata tersebut.
<tldr> Ringkasan: Kata "sulit" atau "susah" bukan sekadar keluhan, melainkan perintah bagi otak untuk berhenti berusaha. Menggunakan kata-kata ini secara otomatis menutup peluang solusi dan melemahkan kondisi biologis tubuh sebelum tantangan dimulai. </tldr>
Anda: "Hanya satu kata saja kok sampai didenda? Bukankah itu kenyataan kalau memang pekerjaannya berat?"
Saya: "Justru di situlah letak jebakannya. Ketika kita melabeli sesuatu sebagai 'sulit', otak kita tidak lagi mencari cara, melainkan mencari pembenaran untuk menyerah. Kata-kata ini menggiring otak kita untuk pesimis padahal kita belum mencoba menganalisis masalahnya secara jernih."
Secara neurosains, perintah dari otak ini mempengaruhi seluruh kinerja tubuh—mulai dari aliran darah, adrenalin, hingga sel-sel neuron dan myelin. Saat kata "sulit" terucap, seluruh aspek dalam tubuh ikut-ikutan lesu. Jika ini terus terjadi, kualitas karya dan kualitas hidup kita dalam jangka panjang pasti akan menurun.
Tesis Utama: Kata "sulit" adalah vonis yang mengunci potensi diri. Mari kita sadari bahwa setiap kali kata ini keluar, kita sedang menyuntikkan racun pesimisme ke dalam sistem saraf kita sendiri.