Sebagai guru, saya sering menghadapi fenomena menyedihkan di ruang kelas. Ketika saya bertanya, "Apakah teman-teman paham?", suasana menjadi sepi alias "krik-krik". Siswa lebih memilih menunduk daripada merespon. Ini bukan karena mereka bodoh, tapi karena konsep diri mereka belum tuntas.
<tldr> Ringkasan: Lemahnya konsep diri pada orang dewasa seringkali bermula dari masa kecil yang selalu disalahkan saat berpendapat. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang pasif, takut salah, dan hanya berani bicara untuk menyenangkan atasan (mentalitas "Asal Bapak Senang"). </tldr>
Anda: "Kenapa siswa itu sampai takut ditunjuk, Pak? Padahal kan sudah dewasa?"
Saya: "Karena di alam bawah sadar mereka, berbicara atau berbeda pendapat dianggap sebagai risiko. Ada memori masa kecil yang berbisik: 'Lebih aman diam daripada salah dan dipermalukan'. Inilah hasil dari pola asuh yang terlalu sering mengintervensi pendapat anak."
Studi Kasus Siswa: Saat saya menunjuk seorang siswa untuk menjelaskan ulang, ia malah menjawab, "Yah Bapak, kenapa saya? Saya kan sudah nunduk?" Respon ini menunjukkan harga diri (self-esteem) yang rendah. Mereka menganggap proses belajar sebagai ancaman, bukan eksplorasi. Jika anak tidak dibiasakan bicara di rumah, mereka akan gagap bicara di dunia nyata.
Bahaya Utama: Jika konsep diri ini tidak diperkuat sejak dini, anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak produktif dan apatis. Mereka berubah menjadi "zombie" sosial yang tidak punya inisiatif karena takut melanggar aturan tak tertulis dari lingkungannya.