Berani Menegur Orang Tua? Ini Tanda Anak Punya Radar "Klasifikasi" Yang Tajam!

Suatu hari, saya terjebak dalam kondisi darurat. Flu akut menyerang, hidung meler hebat, dan celakanya, stok tisu di mobil habis total. Sebagai supir, saya tidak mungkin membiarkan lendir itu mengganggu konsentrasi. Akhirnya, saya memutuskan untuk meludah ke luar jendela mobil. Saya sudah memilih tempat yang "relatif aman"—sebuah kali di pinggir jalan yang dibatasi pagar tanaman. "Tuuuiiihhh..." ludah pun tersembur.

Hati saya bergolak. Saya tahu ini contoh buruk. Benar saja, Afina, putri saya yang duduk di bangku navigator, langsung merespons. Menariknya, ia tidak berteriak "Ayah jorok!", melainkan menggunakan teknik bahasa yang sangat elegan: "Ada orang dewasa yang meludah tidak pada tempatnya."

<tldr> Ringkasan: Klasifikasi bukan sekadar menyusun benda, tapi menyusun pemahaman sistematis tentang apa yang benar dan salah berdasarkan standar yang ada. Ketika anak mampu mengenali tindakan yang "tidak pada tempatnya," itu artinya radar klasifikasinya bekerja dengan sangat tajam. </tldr>

Anda: "Pak Aa, kenapa Afina bisa bicara sehalus itu tapi tetap 'ngena' ke ulu hati?"

Saya: "Itulah kekuatan Klasifikasi. Menurut KBBI, klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok menurut kaidah atau standar. Afina sudah memegang standar bahwa 'ludah adalah kotoran' dan 'tempat kotoran adalah toilet'. Ketika ia melihat ayahnya menaruh 'kotoran' di 'jalan', otaknya langsung mendeteksi adanya mismatch atau ketidaksesuaian kategori."

Tesis: Kemampuan anak untuk mengategorikan tindakan ke dalam kotak "Benar" atau "Salah" secara objektif—bahkan jika pelakunya adalah orang tua sendiri—adalah bukti konsep diri dan klasifikasi yang sudah menguat.