Dari "Susah" Menjadi "Menantang": Mengubah Nasib Keluarga Lewat Satu Kata Ajaib

Jika kita harus membuang kata "sulit", lalu apa penggantinya? Solusinya sederhana namun punya dampak luar biasa: gunakan kata "Tantangan" atau "Menantang".

<tldr> Ringkasan: Mengganti "sulit" menjadi "menantang" mengubah posisi mental kita dari korban menjadi penakluk. Dengan diksi ini, adrenalin terpicu untuk mencari solusi dan keberhasilan kecil yang diraih anak akan melangitkan rasa percaya diri mereka. </tldr>

Bayangkan Ayah Bunda sedang bersepeda dengan si kecil, lalu jalanan di depan becek dan berlumpur. Alih-alih bilang, "Duh, susah ini jalannya, becek banget," cobalah ubah menjadi: "Wah, kondisi jalannya cukup menantang ya, Dek. Yuk, kita coba taklukkan tantangan ini berdua. Insya Allah bisa kalau kita berusaha dan kerja sama!"

Anda: "Apakah hanya dengan mengubah satu kata, anak saya langsung jadi mandiri?"

Saya: "Ini soal konsistensi. Ketika anak berhasil melewati 'hal menantang' (seperti membuka tutup toples yang rapat atau melewati jalan becek), rasa percaya dirinya akan meningkat. Ia akan mengambil pelajaran berharga: 'Semua bisa dilakukan asalkan saya mau berusaha.' Inilah modal utama daya juang."

Henry Ford pernah berkata: "If you think you can do a thing or think you can't do a thing, you're right." Jika Ayah Bunda berpikir ini sulit, maka akan sulit. Jika Ayah Bunda berpikir ini adalah tantangan yang seru, maka pintu solusi akan terbuka.

Nasihat Penutup: Mari kita bersihkan kamus keluarga kita dari kata-kata yang mengerdilkan potensi. Gunakan nama anak sebagai doa dan gunakan kata "menantang" sebagai bahan bakar semangatnya. Perubahan kecil pada kata-kata ini akan berdampak besar bagi nasib anak kita di masa depan.