Mengapa kita harus sangat berhati-hati dengan kata "sulit" di depan anak? Karena anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak hanya mendengarkan nasihat kita, tapi mereka menyerap energi dan pilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
<tldr> Ringkasan: Kebiasaan orang tua mengatakan "susah" akan membangun frame of mind negatif pada anak. Akibatnya, anak tumbuh dengan daya juang rendah, gampang menyerah, dan memiliki mentalitas "zombie" yang apatis terhadap tantangan baru. </tldr>
Dalam observasi saya di berbagai PAUD dan TK, saya sering melihat anak-anak yang belum menyentuh mainan atau tugasnya sudah berteriak, "Bu guru, susah... aku nggak bisa!" Ini menyedihkan. Barangkali, sumber utamanya bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena di alam bawah sadar mereka sudah terinstalasi program "susah-sulit-angel" yang ditularkan dari rumah.
<rantlet> Lucu ya, kita ingin anak kita punya mentalitas pemenang sekelas atlet Olimpiade, tapi di rumah kita sendiri terus-menerus memamerkan mentalitas "korban" dengan mengeluh betapa sulitnya hidup. Kita sedang mencetak generasi yang takut pada bayangannya sendiri sebelum mereka sempat melihat cahaya matahari. </rantlet>
Anda: "Tapi kan memang ada pelajaran atau tugas yang berat untuk anak usia dini?"
Saya: "Berat itu objektif, tapi 'sulit' itu subjektif. Dengan menganggap semua hal itu 'susah', anak akan kehilangan empati pada dirinya sendiri. Ia akan menjadi orang yang pasif, apatis, dan tidak produktif—persis seperti zombie yang hanya bergerak tanpa tujuan dan semangat."