Sebagai konsultan yang belajar pengoptimalan anak, saya sering melihat orang tua yang tanpa sadar melakukan "penjajahan mental" pada hal-hal sepele. Kejadian sederhana di keluarga kami tentang rasa buah jeruk dan salak adalah laboratorium nyata untuk melihat apakah anak kita sudah memiliki konsep diri yang kuat atau belum.
<tldr> Ringkasan: Saat anak berani mempertahankan pendapatnya yang berbasis pada apa yang ia rasakan (sensori), itu adalah tanda kemerdekaan berpikir. Menghargai perbedaan pendapat dalam hal-hal keseharian (non-prinsipil) adalah cara terbaik membangun fondasi kepercayaan diri anak. </tldr>
Tesis: Kemerdekaan berpendapat yang dilindungi sejak dini adalah modal utama anak untuk menjadi individu yang otentik dan berdaya di masa depan.
Anda: "Tapi bukankah itu terkesan membantah orang tua? Bukankah anak harus diajari sopan santun?"
Saya: "Ada garis tegas antara membangkang tanpa alasan dengan menyatakan kebenaran subjektif. Jika anak merasa salak itu pahit karena terlalu matang, sementara kita merasa manis, itulah realitas sensorinya. Memaksanya setuju dengan lidah kita adalah langkah awal mematikan kejujuran intelektualnya."
<rantlet> Lucu sebenarnya melihat orang tua yang ingin anaknya menjadi pemimpin hebat atau CEO pemberani di masa depan, tapi di rumah, saat si anak bilang 'makanan ini asin', orang tuanya malah marah dan bilang 'jangan sok tahu, ini enak!'. Kita ingin mereka jadi singa, tapi kita paksa mereka mengeong mengikuti kemauan kita. </rantlet>
<contoh yang dapat dilewati> Analogi Filter Kamera: Bayangkan setiap manusia memakai kacamata dengan filter warna yang berbeda. Ayah melihat dunia lewat filter biru, sementara anak melihat lewat filter hijau. Memaksa anak bilang dunia itu biru adalah kebohongan. Dalam kasus Afina, ia bicara berdasarkan sensory awareness (kesadaran indera). Lidahnya adalah filter informasinya. Menghormati laporannya tentang rasa pahit adalah bentuk penghormatan kita pada eksistensinya sebagai manusia. </contoh yang dapat dilewati>