Saat Anak Jadi "Guru" Kita: Mengapa Critical Thinking Lebih Penting Dari Sekadar Kepatuhan?

Mengapa banyak anak hanya diam saat melihat orang tuanya salah? Biasanya karena takut atau tidak dilatih untuk memiliki suara sendiri. Namun, dalam kasus Afina, ia menunjukkan kombinasi antara nyali dan kemampuan komunikasi. Ia tahu tempat ludah seharusnya di toilet, bukan di jendela mobil.

<tldr> Ringkasan: Keberanian anak untuk menegur orang dewasa dengan cara yang santun adalah bentuk Critical Thinking yang matang. Ini terjadi karena orang tua memberikan ruang kebebasan berpendapat di rumah, sehingga anak tidak merasa inferior saat menyampaikan fakta yang tidak proper. </tldr>

Anda: "Tapi, apakah sopan jika anak kecil menegur orang tua seperti itu?"

Saya: "Sopan santun bukan berarti diam saat melihat kesalahan. Afina menggunakan teknik '5 kontinum' atau bahasa elegan. Ia tidak menyerang pribadi saya ('Ayah jorok!'), tapi ia menyatakan fakta ('Ada orang dewasa meludah tidak pada tempatnya'). Ini adalah kecerdasan emosional yang luar biasa tinggi."

<rantlet> Seringkali orang tua merasa 'ternoda' otoritasnya jika ditegur anak. Kita ingin anak jujur, tapi saat mereka jujur tentang kesalahan kita, kita malah marah dan bilang 'Anak kecil tahu apa?'. Kita sedang mencetak generasi penjilat jika kita tidak sanggup menerima kebenaran dari mulut anak sendiri. Stop being a fragile parent! </rantlet>

Anda: "Lalu, bagaimana reaksi Pak Aa saat ditegur?"

Saya: "Saya minta maaf secara tulus. 'Maaf ya, Ayah kasih contoh yang kurang baik. Ayah terdesak karena tisu habis.' Di sini, saya sedang mengonfirmasi klasifikasi Afina bahwa tindakan saya memang salah. Saya tidak membela diri dengan ego, melainkan mengakui standar yang ia pegang benar."